Alhamdulillah sekarang gue udah bisa kuliah di
Universitas Syarif Hidayatullah (UIN Jakarta) jurusan Matematika. Walau
sebenernya gue mengharapkan bisa kuliah di luar Jakarta, tapi orang tua gue
udah sangat seneng dan bangga klo gue bisa kuliah di PTN. Nyokap gue selalu
berkata ‘yang penting universitas negeri, jangan kaya orang tua kamu ini’, itu
yang membuat gue mengikuti apa kata nyokap bokap gue. Tapi terkadang gue berpikir
memang Allah itu selalu memberi hikmah di balik sebuah kegagalan, tinggal kita
yang mencari apa hikmah yang di berikan itu. Kenapa omongan gue kaya ustad gini
yah? *efek kuliah di UIN*
Gimana nih kabar kalian semua? Lama nih gue gak
ngepost pengalaman pribadi gue di blog yang gak jelas ini karena kesibukan gue
yang begitu padat dan virus LEMOTIUS VIRUSIANIS yang udah menjalar sampe ke
akar otak gue yang sangat mengganggu banget dalam setiap aktivitas yang gue
lakukan.
Banyak sekali para mahasiswa yang tidak
menyukai bulan ini karena libur semester sudah berakhir dan dengan berat hati,
mereka kembali ke kesibukan yang membabi buta dengan tugas” yang sangat tidak
berperiketugasan *sedikit menitihkan air mata*. Gue juga sangat merasakan
dampak dari bulan ini karena temen” gue yang beberapa bulan kemaren pulang
kembali ke Jakarta harus kembali meninggalkan gue untuk sementara waktu lagi.
Temen” deket gue itu adalah Ronel (USU),
Dian (UGM), Ronggur (UNDIP), Ujem (BP2IP), Andreas (UNDIP), Rangga (ITS), dan
Bassam (PNJ UI). Gak ada lagi ketawa” kecerian seperti waktu mereka ke sini,
tapi gue yakin mereka bakal balik lagi dan membawa kebahagian buat gue walau
itu bakal terjadi suatu saat nanti dan kita bakal seru”an membuat hidup ini
terasa indah selalu, amien.
Masalah someone gue? Gue sendiri udah sedikit
kehilangan kontak semenjak gue kuliah dan dia juga. Tapi gue yakin kalo Allah
memang menciptakan DIA untuk GUE dan GUE untuk DIA. Gue pasti bakal selalu
mengingat masa” indah gue dulu walau sekarang udah terpisah tempat kuliah,
temen, kesibukan dan tugas”. Sebenernya rumah gue gak jauh tapi entah kenapa
gue gak mau ngeganggu dia dan semoga aja dia mau nungguin gue menjadi orang
sukses dan bisa menjadi orang yang selalu ngejagain dia kapanpun seperti janji
gue dulu. Amien.
Lo semua pasti tau yang namanya Circle K? gue
tau nama itu pasti familiar di kuping kalian semua. Itu adalah tongkrongan
anak” gaul yang sangat kelebihan pergaulan. Disana juga banyak terdapat anak”
ababil (dibaca: ABG labil) yang selalu merasa dirinya udah pada dewasa dan
menganggap tempat itu adalah milik mereka sendiri. Bagaimana tidak, mereka bisa
menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk minum segelas soda di sana bareng”
dengan teman”nya. lebih parahnya lagi, terkadang yang beli di tempat itu hanya
1 orang dan temen” yang lainnya hanya numpang duduk aja *nepok jidat*
Gue membahas tentang tempat itu karena gue
mendapatkan pengalaman yang sangat memalukan (lagi) dan gak bakal pernah gue
lupakan selama hidup gue. Gue sendiri merasa bodoh banget saat kejadian itu
terjadi. Check this out!!!
Pada suatu ketika gue di ajak sama salah satu
temen gue buat nongkrong di sana. Sejujurnya gue belom pernah sama sekali
kesana dan ini akan menjadi tonggak sejarah dalam hidup gue karena gue udah sah
jadi Anak Gaul Jakarta (AGJ) kalo udah nongkrong di sana. Menurut gue kalian
anak” Jakarta yang ingin di bilang gaul harus nongkrong di tempat” kaya gini,
klo lo belom ke sini, lo belom sah menjadi Anak Gaul Jakrta (AGJ).
Gue mulai bergegas berganti pakaian dan
berusaha menjadi AGJ (Anak Gaul Jakarta)
Sesampainya di sana, gue langsung memarkirkan
motor dengan sangat bijak dan hati”, agar tidak kehilangan motor lagi kaya
waktu buka puasa dulu *sedih nginget lagi hal itu*. Gue sebenernya deg-degan
mau masuk ke tempat laknat itu karena gue baru pertama kali kesana dan gue juga
ingin cepat” dinobatkan sebagai Anak Gaul Jakarta (AGJ). Gue berpura-pura jadi
orang yang sering ke sana dan bersikap seperti anak-anak gaul Jakarta yang
lainnya. Gue coba meminta rokok sama temen gue karena rata-rata anak-anak di
sini megang rokok semua. Gue gak nyalain rokok itu tapi gue mencoba memainkan
rokok itu di tangan gue agar gue di bilang atraktif dan gaul. Sebenernya gue
sendiri gak ngerokok, Cuma gue mau di liat gaul aja di depan anak” ababil itu.
hahhahaa
Gue udah sampe di depan pintunya dan gue menaikturunkan
air liur gue tanda gugup. Gue juga sebenernya mau pegangan sama temen gue yang
di samping buat masuk ke dalem, tapi karena temen gue cowo niat itupun gue
urungkan, nanti malah gue di sangka homo lagi di dalem, hheheheh. Temen gue
langsung membuka pintunya.
Terbuka lah pintu itu!!
Rupanya semua yang gue pikirkan dari awal sirna
begitu saja. Circle K itu lebih mirip kaya super market yang sedikit bagus
doang karena namanya pake bahasa inggris. Semua yang di jual di sinipun sama kaya
warung deket rumah gue. Ada ciki, minuman ringan dan makanan semacam sosis. Ade
gue juga sering banget beli kaya gituan di warung saudara gue, malah lebih
murah di warung saudara gue. Gue jadi semakin berpikir bahwa sebenernya orang“
yang dateng kesini itu mempunyai selera beli yang sama aja dengan temen” gue.
Memang jajanan warung adalah salah satu karakteristik Indonesia yang tidak di
punyai Negara lain *ngelus dada*
Tapi di sini punya satu kelebihan yaitu minuman
yang tinggal mencet doang langsung keluar minumannya sesuai apa yang kita mau.
Gue pun tertarik melihat benda yang besar di pojok circle K itu. Lagi
memandangi indahnya benda itu, temen gue langsung nepok gue dari belakang
‘lan, lo cari aja yang lo mau. Gue mau ke sana
dulu nyari makanan’ temen gue berkata dengan lantang
‘oke lah’ gue ngomong dengan muka bergembira
ngeliat benda itu
Memang di Circle K ini Cuma ada beberapa orang
doang karena tempat ini baru di buka beberapa waktu yang lalu. Gue melihat Cuma
ada kira” 8 orang doang dan gue termasuk di dalamnya. Gue melihat gak ada Anak
Gaul Jakarta yang nongkrong di sini. Mungkin karena masih baru, jadi spesies Anak
Gaul Jakarta belom bisa mendeteksi kalo di sini ada tempat nongkrong.
Gue mulai tergiur untuk mencoba minuman yang di
tempatkan di pojok circle K ini. Minuman yang ada di sana bemacam” yaitu buah-buahan,
coca-cola dan kopi. Jiwa gue berkata, gue harus memilih coca-cola tetapi hati
gue pun berkata lain. Hati gue malah lebih tertarik dengan kopi. Jadilah gue
sekarang galau buat memilih minuman yang satu ini. Tuhan, tolong bantulah
hambamu ini?
Rupanya hati gue lebih meyakinkan daripada jiwa
gue sendiri. Gue akhirnya memilih kopi sebagai teman gue di malam yang dingin
ini. Akhirnya tuhan memberikan hidayah yang luar biasa juga dalam memilih
minuman ini. Alhamdulillah *sujud di circle K*
Rupanya masalah tidak berhenti sampai di situ
aja. setelah berhasil memilih minuman yang akan gue minum, gue akhirnya
mendapati kenyataan bahwa banyak banget gelas di tempat itu. Gue yang memang
berpengalaman dalam hal terdesak kaya gini mulai berpikir rasional. Tanpa
sedikitpun sebuah kepanikan di muka gue yang ganteng ini, gue langsung bertanya
kepada hati kecil gue untuk menyelesaikan masalah klasik ini. Hati kecil gue
rupanya mengarahkan mata gue ke sebelah tempat pengambilan minuman yang rasa
buah. disana banyak sekali gelas bergeletakan dengan indah yang membuat gue
tergiur untuk menggunakannya. Hati gue pun menginstruksikan buat langsung
ngambil gelap itu. Rupanya dateng lagi sebuah dilemma yang sangat luar biasa
dashyat
‘jangan kau ambil gelas itu!!’ malaikat dateng
dengan tiba” dan meyakinkan gue
‘udah, ambil aja. lo kan udah haus dan gak bisa
di tahan” lagi. Lagian apa salahnya sih Cuma ngambil gelas di sebelah sini
doang buat nadangin kopi lo’ setanpun datang buat memastikan bahwa tindakan gue
itu benar
Kejadian ini sama seperti film” (jamet) di
Indonesia. Dimana setan dan malaikat datang untuk melaksanakan tugasnya
masing”. Gue memang sering banget labil buat memilih salah suatu hal karena
datengnya malaikat dan setan secara bersamaan. Biasanya di film” itu malaikat
selalu menang karena membawa pesan kebaikan, tapi dalam diri gue setan juga
mempunyai pengaruh dan andil besar juga karena godaaannya sangat lah dashyat
dan bersifat rasional. Rupanya setan memenangkan persaingan gelas kali ini dan
merekapun pergi dengan seksama meninggalkan gue sendirian di antara gelas” gak
penting ini. Gue pun langsung membaca Bismillah dan dengan pasti mengambil
gelas itu *efek kuliah di UIN*
Gue juga melihat sedikit kejanggalan dalam
gelas itu. Gelas itu memang termasuk ukuran gelas yang besar di sini. Yang
lebih aneh lagi gambar dari gelas itu adalah buah-buahan. Tanpa berpikir
panjang lagi karena gue sangat haus, gue langsung mengambil gelas itu dan
menaruhnya di bawah kucuran kopi.
Gue memencet tombol kopi bertuliskan tiramisu
dan menunggu tuangan kopi di dalam gelas gue penuh dengan perasaan yang riang
gembira. Baru pertama kali dateng ke sini, di resmikan jadi Anak Gaul Jakarta
dan ganteng pula (kalo yang ini hanya segelintir orang yang mengiyakannya)
Sedikit
lagi kopi yang gue mau dipenuhi dengan kopi. gue langsung berusaha buat
mematikan aliran kopi itu ke gelas gue. Gue mulai memencet tombol kopi yang
tadi gue pencet pertama kali, hasilnya kopi masih tetap mengalir ke gelas gue.
Gue mulai mengelus mesin itu dengan sangat baik hati, hasilnya air kopi
mengalir makin sempurna ke gelas gue. Mulai sedikit kesel, gue
menggoyang-goyangkan mesin itu, tapi hasilnya air kopi bukan berhenti mengalir
ke gelas malah semakin deras mengalir ke gelas gue. Oohhhhhh, Nooooo!!!
Gue mulai panik, gue panik dan gue bener”
sangat panik
Kopi itu mulai keluar dari gelas gue karena
kelebihan muatan. Entah apa yang ada di pikiran gue saat itu. Gue merasa telah
gagal menjadi Anak Gaul Jakarta karena melakukan perbuatan yang gak masuk di
akal. Ya Allah, tolongin hambamu ini!! Hamba tidak kuat menanggung semua
masalah ini *menangis sambil melihat kucuran kopi sendiri*
Gue melihat gelas gue dengan penuh amarah, gue
memegang gelasnya dengan tangan sedikit jijik karena kopinya panas banget. Muka
gue sendiri udah di penuhi dengan cairan kopi yang kena ke tangan gue dan gue
peper ke muka sendiri. Dengan penuh kepanikan tingkat tinggi gue langsung
berteriak ke temen gue
‘KO,,, BANTUIN GUE DI SINI DONG?’ mengangkat
tangan tinggi” agar temen gue bisa ngeliat gue
‘iya,, bentar lagi…’ temen gue jawab dengan
tenang
‘GEBLEK,,, CEPETAN BANTUIN GUE’ gue mau sambit
dia pake gelas yang ada di meja
Eko langsung menuju kearah gue dengan sangat
tergesah-gesah dan memegang sebuah bungkusan di tangannya. Setelah sampe di
tempat gue berdiri
*menjatuhkan bungkusannya ke lantai* ‘aduuuhhh,
lo udah gila yah?? Itu minuman kenapa luber begitu sih lan?’
*muka gak bersalah* ‘gue gak tau matiinnya ko,
tolong matiin dong? Gue udah berusaha semaksimal mungkin nih dari tadi’
*kaget denger kata” gue* ‘astaga, cara
matiinnya itu Cuma lo pencet aja tombol lain yang lo pencet awal’ berhentilah
kucuran kopi panas itu di gelas gue
‘alhamdulillah…..’ sujud syukur gue atas
matinya kucuran kopi itu
‘lo mah klo begini bukan anak gaul Jakarta
lan!’ temen gue bertanya
‘emang gue anak apaan?’ sedikit bingung dengan
pertanyaan itu
‘lo mah ANAK GOBLOK JAKARTA….’ Dia meneruskan
dengan tertawaan yang lepas ‘hhahahahahha…’
*gue Cuma bisa menundukan kepala menahan rasa
malu ini*
Masalah yang membuat malu gue itu akhirnya
selesai juga. Gue melihat ke arah pelanggan laen yang tadinya lagi memilih
makanannya langsung pada ngeliatin gue dengan penuh kenistaan. Mungkin menurut
dia masih ada aja orang bodoh yang gak bisa matiin kucuran kopi laknat itu.
Sejujurnya muka gue sedikit merah ngeliat pandangan jijik orang laen ke gue
saat itu. Gue juga melihat ada salah satu pengunjung yang bengong terperanga
sambil ngunyah ciki yang ada di tangannya dan itu karena dia ngeliatin muka gue
panik dan berubah warna jadi abu-abu monyet. Ya Allah, maafkan hambumu ini kalo
hamba membuat orang laen sinis ngeliat hamba *sujud sambil nangis*
Dengan menahan rasa malu, gue langsung bergegas
menuju ke kasir buat bayar minuman laknat ini. Rupanya masalah tidak berhenti
sampe di situ doang, gue dengan muka penuh air kopi langsung berkata
‘berapa minuman saya mas?’ gue mengambil duit
di dompet gue yang tebel
‘uhhh,,, semuanya 24 ribu rupiah mas!’
penjaganya ngomong sambil mencet” computer
‘astagfirullah,,, mahal banget mas. Kayanya
tulisan di sana Cuma 8 ribu rupiah dah,,’ gue menjawab dengan terkejut
‘iya mas,,, saya mengerti maksudnya, tapi mas
kan ,,,,’ tiba” telpon berbunyi
Gue sedikit kurang mengerti maksud pelayan ini
dan gue nyamperin temen gue sekali lagi buat memastikan semua ini berjalan
dengan normal
‘ko, kenapa gue bayar kopi harganya 24 ribu
yah?’ gue menepok pundaknya
‘lah,,, kok bisa sih lan. Coba gue yang bilang
sama kasirnya,,’ eko menjawab kaget
Temen gue dengan penuh kemarahan langsung
nyamperin ke tempat kasir karena gak terima ngeliat gue bayar kopi 24 ribu. Gue
mah bukannya gak mau bayar tapi gue merasa di boongin aja ama tempat ini karena
jelas banget tulisan disana Cuma 8 ribu doang bisa berubah menjadi 4x lipat
gitu. Mungkin kasirnya baru kali yah atau jangan” gue lagi ada di acara super
trap trans tv dah karena dari tadi gue apes mulu
‘emang lo mesen apaan sih lan…?’ temen gue
masih penasaran sama harga itu
‘yaelah kok, gue Cuma mesen kopi doang’ nunjuk
ke gelas kopi bergambar buah
*mata melotot dan jidatnya mengkerut* ‘lo mesen
kopi pake gelas ini?’ dia nunjuk gelas gue
*bingung* ‘iya lah, emang ada yang salah yah?’
‘lo tuh bener” geblek yah, itu gelas buat
minuman yang berasa buah-buahan bukan buat kopi. klo buat kopi gelas kecil yang
ada gambar kopinya,,,’ dia mengambil gelas yang di maksud
‘emang beda yah? Bukannya sama aja dah. Itu kan
gelas dan ini juga gelas’ gue membandingkan gelas gue ama gelas yang temen gue
kasih
‘BEDALAH BEGO..’ dia memukul gue pake gelas
kopi yang kosong
‘hehhehhe…’ gue Cuma bisa ketawa kecil doang
Gue langsung memindahkan kopi itu ke gelas ke
tempat yang seharusnya dengan penuh dengan kemaluan yang teramat dalam. Setelah
itu gue langsung membayar kopi gue itu seharga 8 ribu rupiah dan sisa kopi di
gelas gue sendiri sampai sekarang belom di ketemukan karena gue sendiri lupa
taro di mana gelas kopi itu. Mungkin setan ama malaikat gue berebutan minuman
kopi bekas gue itu dan membagi”nya ke temen”nya yang laen.
Gimana dengan pengunjung yang laen? Mereka
tetep ngeliatin gue dengan tampang penuh kenistaan. Yang lebih parahnya lagi,
saat gue nongkrong di Circle K ada salah satu anak ababil yang ngomong gini
‘eh, waktu itu dia (gue) nuangin kopi di gelas yang ini tau…’ semua pada ketawa
dengan puas dan masih penuh dengan ketidakpercayaan.
Setelah kejadian itu, gue tetep sering
nongkrong di Circle K tapi bukan di tempat itu lagi biar gak membuat diri gue
semakin aneh di mata mereka bila gue jatuh ke lubang yang sama. Sejujurnya
kejadian aneh yang laennya terjadi juga sama diri gue saat gue nongkrong di
Circle K yang laen. Tapi gue gak mau mengatakan banyak tentang gue di tempat
itu karena entar makin banyak orang yang nertawain gue dan negor gue di sana
tanda gue sebagai orang bodoh yang di kenal, hhahahah.
Amanat : jangan sekali” menyamakan gelas kopi
dengan gelas yang laen, pokoknya jangan!!!